Connect with Social Media
Lolak Berawan, Suhu 23 - 31 , Angin 15 (km/jam) Selatan | Tondano Hujan Ringan, Suhu 19 - 28 , Angin 15 (km/jam) Selatan | Tahuna Hujan Ringan, Suhu 23 - 31 , Angin 18 (km/jam) Barat Daya | Melongguane Hujan Ringan, Suhu 25 - 31 , Angin 18 (km/jam) Barat Daya | Amurang Hujan Ringan, Suhu 23 - 32 , Angin 15 (km/jam) Selatan | Air Madidi Hujan Ringan, Suhu 21 - 31 , Angin 15 (km/jam) Selatan | Ratahan Hujan Ringan, Suhu 22 - 31 , Angin 15 (km/jam) Selatan | Boroko Berawan, Suhu 23 - 31 , Angin 15 (km/jam) Selatan | Ondong Siau Hujan Ringan, Suhu 24 - 31 , Angin 18 (km/jam) Barat Daya | Manado Hujan Ringan, Suhu 23 - 32 , Angin 15 (km/jam) Selatan | Bitung Berawan, Suhu 26 - 32 , Angin 15 (km/jam) Barat Daya | Tomohon Hujan Ringan, Suhu 18 - 28 , Angin 15 (km/jam) Selatan | Kotamobagu Hujan Ringan, Suhu 22 - 31 , Angin 15 (km/jam) Selatan |

King Tidak Nyaman Belajar di Puing-puing Kebakaran

Jun 09, 2013 at 02:40:08 • View 271




-
King Komar, siswa kelas lima SD Inpres 03 Paniki Bawah merasa tidak
nyaman saat belajar. Selama tujuh bulan terakhir sejak sekolahnya
terbakar, King bersama 311 siswa lain di sekolahnya belajar di
puing-puing sisa kebakaran sekolahnya tersebut.


Kepada Tribun, Selasa (4/6) ketika ditemui disekolahnya, King
mengatakan setiap hari seragamnya terkena arang, seperti yang terlihat
saat Tribun bertemu King. Selain itu, suasana berdesakan saat berlajar
selalu dirasakan King selama tujuh bulan terakhir. Pemandangan
sekolahnya pun menurutnya sangat jelek dilihat.


Selama tujuh bulan terakhir, sejak kebakaran menimpa SD Inpres 03
Paniki Bawah pada 11 November 2012 lalu, sebanyak 312 siswa disekolah
tersebut belajar di puing-puing sisa kebakaran tersebut. Bangunan itu
sangat tidak layak disebut sekolah. Gedung yang hangus itu ditutupi
dengan atap darurat dari rangka bambu. Beberapa tempat yang terbuka
ditutup dengan terpal coklat. Tampak tiang-tiang kokoh yang berdiri
sudah hangus. Tanpa jendela dan kaca, gedung sekolah itu tampak terbuka
dari semua sisi. Sisa-sisa reruntuhan beton masih tampak berserakan
dimana-mana. Meja dan kursi yang dipakai para siswa tampak rusak dan
bergoyang.


Hanya ada tiga ruangan yang dipakai sebagai ruang belajar. Tempat
yang sangat terbatas itu memang sangat tidak cukup untuk menampung 312
siswa yang dibagi dalam 11 kelas. Dengan keadaan yang kurang layak
tersebut, pihak sekolah mengambil inisiatif untuk membagi jam sekolah.
Kelas satu sampai tiga masuk di pagi hari sedangkan untuk kelas empat
sampai enam masuk di siang hari. Kelas parallel A dan B disetiap
tingkatnya harus digabung menjadi satu, sehingga para siswa harus
berdesak-desakkan.


Semuanya ludes terbakar, kecuali toilet sekolah. Toilet itu dirubah
fungsi menjadi gudang penyimpanan barang. Kursi-kursi plastik untuk
guru-guru, absen dan barang-barang berharga lain disimpan disitu setelah
kegiatan belajar mengajar selesai. Untuk para orang tua murid yang
datang mengantar anak-anak mereka, sambil menunggu mereka menyusun
beton-beton sisa reruntuhan untuk dijadikan tempat duduk.


Elisabeth Sumampouw, Kepala Sekolah SD Inpres 03 Paniki Bawah
mengatakan tidak ada yang tersisa dari kebakaran itu. Keadaan memaksa
untuk anak-anak tetap belajar. Walau dengan keadaan seperti itu,
pihaknya mengusahakan untuk tetap mengadakan kegiatan belajar mengajar.


"Yang penting anak-anak bisa sekolah," ungkapnya.

Ia
mengatakan, kursi dan meja yang dipakai murid-muridnya sekarang
merupakan sumbangan dari dari sekolah-sekolah yang ada di Kecamatan
Mapanget yang kelebihan kursi dan meja, juga merupakan sumbangan dari
orang tua murid yang berinisiatif. Dari sumbangan tresebut, da beberapa
kursi dan meja yang sudah rusak, sehingga pihaknya harus memperbaiki.
Untuk pengadaan atap, pihaknya mengambil sedikit dari dana BOS.


Dikatakannya, sampai saat ini tidak ada bantuan sama sekali dari
pemerintah. Dari awal pihaknya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk
mendapatkan dana dari pemerintah. Namun dengan alasan dana yang masih
dipending dari pusat, pihak pemerintah belum bergerak.


"Semoga pemerintah segera membangun sekolah ini, kasihan anak-anak
harus belajar ditempat yang kurang layak. Apalagi nanti akan masuk
ajaran baru. Kalau keadaan sekolah yang seperti saat ini, bisa-bisa
tidak ada yang mendaftar di sekolah ini. Kalaun sampai ajaran baru nanti
belum ada tanda-tanda bantuan, pihak kami akan membeli sendiri
bahan-bahan bangunan seadanya untuk membangun sedikit demi sedikit
dengan dana Bos," ungkapnya. (fin


Penulis : Finneke_Wolajan

Editor : Andrew_Pattymahu

Sumber

Sekitar Manado