Kesehatan | April 17, 2018 at 12:10 PM post by Mimsy (view 3524)

Laporan Wartawan Tribun Manado Finneke Wolajan

TOMOHON – Pria itu menarik nafas dalam-dalam, mengambil ancang-ancang dengan balok kayu yang ia genggam.

Puk, satu pukulan keras menghantam kepala seekor anjing berwarna hitam.

Anjing itu berteriak dengan keras.

Pukulan kedua masih di tempat yang sama, teriakan anjing melemah, darah mulai bercucuran.

Anjing tersebut tak bisa bertahan pada pukulan ketiga.

Pria itu menaruh balok penuh bercak darah itu.

Ia lalu mengambil penyembur api, memasangnya dan membakar anjing itu di lantai.

Setelah memastikan anjing itu tak lagi berbulu, ia mematikan penyembur api, mengangkat anjing ke atas lapak.

Ia mengambil pisau dan mulai memotong kecil-kecil anjing itu.

Ia memasukkan daging anjing itu ke plastik hitam.

Pria itu lalu menyerahkan bungkusan plastik itu pada seorang wanita yang telah menunggunya dari tadi.

Wanita itu lalu memberikan uang Rp 100 ribu pada pria itu.

Usai transaksi, sang penjagal itu membersihkan tangannya, lalu duduk dan melanjutkan lahapan makan siangnya.

Ia tampak senang dagangannya kembali laku seekor.

Sang penjagal itu adalah Dede Pongoh (63) warga Paslaten, Kota Tomohon, Sulawesi Utara (Sulut).

Puluhan ekor telah laku seminggu belakangan.

Kloter kali itu tertinggal seekor yang masih hidup di kerangkeng besi dan seekor lagi yang telah dibakar dan ditaruh di atas kerangkeng besi.

Sudah tiga puluh tahun ia berdagang daging anjing di Pasar Beriman Tomohon, Sulut, pasar yang terkenal dengan dagangan daging ekstrimnya.

Selain memukul kepala anjing, Dede juga kadang menggantung anjing hingga mati.

Tapi Dede lebih sering memukul dengan balok, cara yang menurutnya lebih mudah.

Separuh hidupnya telah ia habiskan berdagang daging anjing.

Ia telah merasakan bagaimana ganasnya serangan anjing yang ia jual.

Cakaran dan gigitan mengisi keseharianya.

Untuk membuktikannya, Dede lalu memperlihatkan bekas luka di kedua tangannya, ketika bersua dengan Tribunmanado.co.id, Sabtu (24/3/2018).

Tak ada serangan anjing yang fatal bagi Dede.

Tapi rupanya Dede telah empat kali disuntik vaksin anti rabies.

Dari ratusan bahkan ribuan anjing yang ia bunuh, ada empat serangan yang diduga kuat anjing yang positif rabies.

"Waktu ke dokter, dokternya bilang, wah Bapak lagi yang datang. Sudah jadi langganan katanya. Suntiknya bayar Rp 500 ribu, obatnya Rp 500 ribu. Saya biasanya suntik rabies di Rumah Sakit Gunung Maria," ucapnya tertawa, sambil melahap makan siangnya.

Erni Sumilat (75), pedagang lainnya juga punya banyak bekas gigitan dan cakaran anjing di tangan dan kakinya.

Erni adalah pedagang anjing tertua di Pasar Langowan, Minahasa, Sulut.

Sudah setengah abad dia jualan, serangan anjing bukanlah hal menakutkan baginya.

Saat bersua dengan Tribunmanado.co.id, Sabtu (31/3/2018), ada perban di tangan kanannya.

Gigitan anjing yang ia jagal bara saja menyobek tangannya, lukanya masih basah.

“Aduh kalau cuma sobek, sudah biasa. Saya sudah menghadapi berbagai model anjing. Paling kalau digigit dibersihkan saja. Kalau agak besar, paling hanya minum Amoxcilin sudah sembuh. Memang sudah risiko pekerjaan. Di sini saya menggantungkan sumber ekonomi keluarga saya selama 50 tahun,” ucap pria beruban ini saat ditemui di Pasar Langowan.

Selama ini baru sekali Erni disuntik rabies.

Anjing yang menggigitnya langsung mati tak lama setelah kejadian itu.

Atas saran mantri, Erni akhirnya mau disuntik rabies.

Tapi sebenarnya sudah banyak kali anjing yang menggigitnya seketika mati.

“Malah anjing yang gigit saya, saya bunuh saat itu. Kan sudah dibeli orang. Yang penting berdoa saja, pasti Tuhan lindungi,” tuturnya.

Dede dan Erni hanya dua di antara banyaknya kasus rabies yang menghantui perdagangan daging anjing di Sulut.

Pasar tradisional yang tersebar di beberapa daerah di Sulut umumnya menjual daging anjing.

Terutama di daerah yang masuk tanah adat Minahasa yang tersebar di tujuh daerah administratif yakni Tomohon, Minahasa, Manado, Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara, Minahasa Utara dan Bitung.

Namun di antara pasar-pasar ini, yang paling banyak menjual anjing ada di Tomohon, Minahasa dan Manado.

Pemandangan anjing tak berdaya, kurus dan terpenjara dalam kerangkeng besi ada di mana-mana.

Sementara anjing yang telah mati ditaruh di atas di lapak.

Pedagang biasanya tak lagi rutin memberi makan anjing yang masih hidup ini hingga terjual.

Paling hanya beri minum seadanya.

Sesekali beri makanan, itu pun jika anjing sudah sangat lemah.

Anjing di pasar-pasar ini melewati perjalanan darat lintas provinsi yang memakan waktu berhari-hari.

Mereka memasoknya dari Gorontalo, Palu, Kendari, Mamuju, Makassar bahkan hingga Kalimantan.

Anjing yang berasal dari Kalimantan hanya dijemput di pelabuhan feri di Palu.

“Ada orang sana yang mencari anjing di Kalimantan, lalu bawa lewat laut. Kami tinggal ambil di pelabuha,” ujar Kiki Pongoh (41), pedagang anjing di Pasar Beriman Tomohon.

Jika memasok anjing dari daerah jauh seperti Makassar, anjing akan langsung dibunuh dan dibakar, lalu disimpan di styrofoam kotak yang penuh balok es.

Dalam beberapa waktu, pedagang mengganti balok es selama perjalanan.

Perjalanan ke Sulawesi Utara yang memakan waktu 3 – 4 hari dengan mobil, membuat pedagang repot jika membiarkan anjing tetap hidup.

“Kalau mati lalu bawa, ukuran anjing akan sama seperti waktu hidup. Tapi kalau dibiarkan hidup, anjing akan kurus,” ungkap Kiki Pongoh.

Pedagang rela menempuh perjalanan hingga seminggu bahkan lebih.

Bukan tak beralasan, di luar Sulawesi Utara masyarakat tak mengonsumsi anjing.

Sehingga harga jual di daerah-daerah tersebut sangat rendah.

Ini pun menjadi bisnis menggiurkan bagi pedagang.

Laku satu ekor, untungnya satu ekor.

Beli seekor Rp 50 ribu, jualnya Rp 100 ribu.

Selain beli ke warga, banyak pula anjing liar yang ditangkap.

Menurut Joshua Kamagi, pria asal Minahasa Utara, anjing-anjing liar di Kendari ditangkap menggunakan ganco.

“Warga sana melarang pakai racun, jadi kami tak mengunakannya,” ucap pengumpul anjing yang mendistribusikan anjing di Pasar Bersehati Manado.

Di pasar ini pedagang hanya menjual anjing dalam keadaan mati.

Meski harganya mahal, pedagang juga memasok anjing lokal

Mereka keliling di kampung-kampung warga.

Ada yang di Minahasa sendiri, ada pula yang mencari anjing hingga daerah Bolaang Mongondow.

Harganya bervariasi, tergantung ukuran anjing.

Biasanya sepuluh kilogram anjing dihargai Rp 250 ribu.

“Harga biasanya tergantung keperluan pemilik anjing,” ujar Max Sumilat (66), pedagang di Pasar Langowan, Minahasa.

Pedagang tak kesulitan mendistribusikan anjing-anjing dari tempat asal hingga ke pasar.

Lalu-lalang mobil ladbak terbuka yang telah dimodikasi dengan kerangkeng besi terlihat setiap waktu.

Satu mobil bisa menampung puluhan bahkan ratusan anjing.

Mereka tak harus melewati pos pemeriksaan kesehatan hewan.

Baik di luar Sulawesi Utara, maupun di dalam Sulawesi Utara sendiri.

Mulai dari Bolaang Mongondow Utara, Bolaang Mongondow Selatan, sebagai perbatasan dengan Gorontalo, hingga ke pasar-pasar tradisional yang tersebar di beberapa kabupaten dan kota.

Setiba di pasar pun sudah bisa langsung transaksi.

Tak ada pihak yang bisa menjamin, anjing yang dijual di pasar-pasar tersebut bebas dari zoonosis.

Tingginya keuntungan di bisnis perdagangan anjing ini membuat sejumlah warga rela mengambil jalan pintas

Warga yang membiarkan anjingnya bebas berkeliaran rawan hilang.

Hampir setiap hari ada kasus kehilangan anjing warga.

Polisi pun mencatat banyak kasus pencurian anjing atau disebut doger dalam bahasa lokal, dari waktu ke waktu.

Animal Friends Manado Indonesia (AFMI) menyebut ada ribuan anjing dan kucing yang terbunuh di pasar-pasar Sulawesi Utara setiap minggunya.

Penyelidikan AFMI memperkirakan 90 persen hewan-hewan ini adalah hasil curian hewan peliharaan, anjing berpemilik dan anjing jalanan.

Pedagang sendiri mendatangkan 80 persen anjing dari provinsi lain.

AFMI menilai tindakan ini ilegal sesuai hukum anti rabies yang melarang pergerakan anjing lintas batas provinsi.

Dog Meat Free Indonesia juga menemukan fakta di pasar-pasar yang menjual daging anjing di Sulawesi Utara yakni Pasar Manado, Airmadidi dan Langowan.

Studi tahun 2007 tersebut mengungkap 7,8 hingga 10,6 persen anjing yang dijual di pasar tersebut terinfeksi virus rabies.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi perdagangan daging anjing menjadi penyumbang utama penyebaran rabies.

National Technical Advisor FAO ECTAD Indonesia, Dokter Hewan Ahmad Gozali mengatakan penyebaran rabies dalam perdagangan anjing untuk konsumsi punya risiko tinggi pada proses transportasinya.

Perpindahan anjing dari suatu tempat ke tempat lain berpotensi menyebarkan virus rabies.

Setelah proses transportasi anjing, risiko penyebaran rabies dari perdagangan anjing adalah proses pengolahan anjing hingga menjadi makanan.

Sebelum menjagal anjing, pedagang pasti menampung dulu anjing-anjing tersebut.

Dalam kondisi itu tak ada yang tahu anjing-anjing itu bebas rabies atau tidak.

Artinya siapapun yang berkecimpung di situ berpotensi kena rabies.

“Alat komunikasi anjing itu mulut, kalau tak nyaman pasti gigit. Baik gigit anjing lain maupun operator. Lanjut pada proses memotong, kita tak tahu seberapa besar operator melindungi diri selama proses itu. Air liur anjing rabies, jika terpapar pada luka terbuka, pasti kena. Jika air liur itu masuk ke tubuh, tubuh kita pasti terinfeksi virus rabies,” jelas Gozali.

Direktur Kesehatan Hewan, Kementerian Peternakan RI, Fadjar Sumping Tjatur Rasa, mengatakan harus ada pengawasan pemerintah daerah dalam perdagangan anjing untuk konsumsi di Sulawesi Utara.

Anjing yang masuk harus dipastikan dalam keadaan sehat, apalagi dari daerah tertular ke daerah tidak tertular.

“Peraturan dan pedoman sebenarnya sudah ada, namun implementasi di lapangannya yang belum ada. Mengontrol lalu lintas perdagangan anjing memang tak mudah. Karena ada banyak jalur. Setiap pedagang harus mengantongi surat keterangan kesehatan hewan dari daerah asal. Daerah penerima mengecek dulu suratnya ada atau tidak, kalau tidak, seharusnya ditolak,” ujarnya.

Source: manado.tribunnews.com