Sekitar Manado | October 21, 2017 at 12:10 AM post by Mimsy (view 8524)

TRIBUNMANADO.CO.ID - Dulu saat kita usai berkendara menggunakan mobil, lalu kita periksa kaca depan, pasti ada sejumlah serangga terjepit. Namun saat ini hampir sulit menemukannnya. Ini dikenal sebagai fenomena kaca depan.

Hasil penelitian sejumlah ilmuwan menunjukkan bahwa populasi berbagi jenis serangga turun drastis. Tanda apakah ini?

Seperti dilansir BBC dari the journal Plos One, sejumlah ilmuwan meneliti di lebih dari 60 kawasan menunjukkan bahwa serangga terbang telah menurun lebih dari 75 persen selama hampir 30 tahun.

Sudah sejak lama para ilmuwan menduga bahwa serangga mengalami penurunan dramatis, namun bukti baru mengkonfirmasikan hal ini.

"Ini menegaskan apa yang dialami semua orang sebagai firasat - fenomena kaca depan di mana Anda menemukan lebih sedikit bug (serangga) dari pada puluhan tahun sebelumnya," kata Caspar Hallmann dari Radboud University di Belanda.

"Ini adalah studi pertama yang meneliti biomassa total serangga terbang dan ini mengonfirmasikan kekhawatiran kita.'' ujarnya.

Penelitian ini didasarkan pada pengukuran biomassa semua serangga yang terjebak di 63 daerah perlindungan alam di Jerman selama 27 tahun sejak 1989.

Data tersebut mencakup ribuan serangga yang berbeda, seperti lebah, kupu-kupu dan ngengat.

Para ilmuwan mengatakan penurunan dramatis terlihat terlepas dari habitat, penggunaan lahan dan cuaca, membuat mereka bingung untuk menjelaskan apa yang ada di baliknya.

Saat ini para ilmuwan masih meneliti untuk mengungkap penyebab dan tingkat penurunan semua serangga di udara.

"Kami tidak tahu persis penyebabnya," kata Hans de Kroon, juga Radboud University, yang mengawasi penelitian tersebut.

'' Studi ini menunjukkan betapa pentingnya memiliki program pemantauan yang baik dan kami memerlukan lebih banyak penelitian sekarang untuk melihat penyebabnya - jadi, itu benar-benar prioritas tinggi. ''

Temuan ini bahkan lebih mengkhawatirkan mengingat bahwa hal itu terjadi di cagar alam, yang dimaksudkan untuk melindungi serangga dan spesies hidup lainnya, kata periset tersebut.

Hilangnya serangga memiliki konsekuensi luas untuk seluruh ekosistem. Serangga menyediakan sumber makanan bagi banyak burung, amfibi, kelelawar dan reptil, sementara tanaman mengandalkan serangga untuk penyerbukan.

Penurunan ini lebih parah daripada yang ditemukan pada penelitian sebelumnya.

Dr Lynn Dicks, dari University of East Anglia, Inggris, yang tidak terhubung dengan penelitian tersebut, mengatakan bahwa makalah tersebut memberikan bukti baru untuk "sebuah penurunan yang mengkhawatirkan" yang oleh banyak ahli entomologi dicurigai selama beberapa waktu. (*)

Source: manado.tribunnews.com