Manca Negara | November 14, 2017 at 09:10 PM post by Mimsy (view 119)

Merdeka.com - Kelompok peretas dan sindikat berita palsu asal Rusia lagi-lagi disebut berada di balik peristiwa penting di dunia. Kini, pemerintah Spanyol menuding kalau mereka grup hoax dunia maya asal Negeri Beruang Merah itu terlibat mempropagandakan besar-besaran kabar referendum Catalunya, dan mencoba menggoyang stabilitas Negeri Matador.

Dilansir dari laman Reuters, Selasa (14/11), Kementerian Pertahanan dan Kementerian Luar Negeri Spanyol mengatakan mereka tidak asal tuduh. Dari bukti-bukti dikumpulkan, mereka menyatakan pemerintah dan sejumlah kelompok peretas dari Rusia dan Venezuela sengaja membanjiri media sosial seperti Facebook dan Twitter, serta sejumlah situs Internet dengan berita-berita seputar kelompok pro kemerdekaan Catalunya. Dengan cara itu mereka menggiring pendapat masyarakat umum sebelum jajak pendapat digelar 1 Oktober lalu.

"Dari yang kami ketahui, semua itu datang dari wilayah Rusia. Kelompok-kelompok ini, baik swasta dan umum, mencoba mempengaruhi situasi dan membuat gejolak di Eropa," kata Menteri Pertahanan Spanyol, Maria Dolores de Cospedal.

Menteri Luar Negeri Spanyol, Alfonso Dastis, juga sependapat dengan Maria. Dia mengatakan juga punya bukti kalau peretas dan sindikat hoax Rusia punya andil dalam pergolakan politik di Catalunya.

"Kami punya bukti," kata Dastis.

Dastis mengatakan, pemerintah Spanyol menyatakan sejumlah akun palsu di media sosial yang jika ditelusuri akan berujung di Rusia dan Venezuela. Mereka bertugas menyebarluaskan pesan-pesan kelompok pro separatis Catalunya. Dia kini menunggu sikap pemerintah Rusia terkait temuan itu.

Seorang anggota partai PDeCat yang pro kemerdekaan Catalunya sekaligus anggota legislatif Uni Eropa, Ramon Tremosa, menyangkal tudingan pemerintah Spanyol. Menurut dia, Rusia tidak punya peran apapun dalam isu pemisahan diri Catalunya.

Dia justru menuding pemerintah Spanyol membual soal tudingan itu. Sebab, pemerintah Spanyol justru dikabarkan membolehkan armada kapal perang Rusia mengisi bahan bakar di salah satu pelabuhannya. Padahal, Rusia dijatuhi sanksi ekonomi karena mencaplok Semenanjung Krim dari Ukraina tiga tahun lalu.

Sebab, saat jajak pendapat digelar Oktober lalu, cuma 43 persen penduduk Catalunya menggunakan hak pilihnya. Sisanya memilih memboikot dan ingin tetap bergabung dengan Spanyol. Pemerintah Rusia juga menampik kabar soal keterlibatan mereka dalam kampanye pemisahan diri Catalunya. [ary]

Source: www.merdeka.com