Nasional | November 15, 2017 at 02:10 AM post by Mimsy (view 122)

Merdeka.com - Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri, memanggil 56 pengelola hotel dan kafe dari beberapa kota besar di Indonesia terkait kasus dugaan penyimpangan distribusi gula Rafinasi. Dalam kasus ini, Direktur PT CP yaitu BB sudah ditetapkan sebagai tersangka pada Kamis (2/11) lalu.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri Brigjen Pol Agung Setya menjelaskan bahwa pemanggilan terhadap 56 pengelola hotel dan kafe itu bersifat rapat koordinasi karena mereka merupakan penerima gula rafinasi dari PT Crown Pratama (CP). Kegiatan itu sendiri dilakukan pada Senin (13/11) kemarin.

"Rapat bertujuan untuk memperbaiki tata kelola pendistribusian gula khususnya yang diperuntukkan untuk konsumsi hotel dan kafe," kata Agung melalui keterangan tertulis, Jakarta, Selasa (14/11).

Lebih lanjut, Agung ingin kepada para pihak hotel dan kafe untuk segera memperbaiki manajemennya terkait dengan mekanisme pengadaan bahan pangan untuk kepentingan konsumsi.

"Dan memastikan bahan pangan tersebut sesuai dengan peruntukannya," ujarnya.

Sayangnya, Agung tak merinci secara pasti atas nama-nama 56 hotel dan kafe yang telah dipanggil oleh pihaknya itu. Menurutnya, rapat koordinasi ini merupakan sarana perbaikan bagi pelaku usaha perhotelan dan kafe sebagai wujud dari penegakan hukum.

"Bahwa era baru penegakan hukum saat ini bukan sekadar menghukum pelaku, namun harus didedikasikan untuk melakukan memperbaiki sistem tata kelola di bidang pendistribusian gula, sehingga dapat memberikan hukum yang bermanfaat bagi masyarakat," tandasnya.

Sekadar informasi, dalam pengungkapan kasus ini berawal dari penyidik melakukan penggeledahan di kantor PT CP pada 13 Oktober 2017 lalu. Dalam penggeledahan itu, polisi telah menemukan aktivitas penyimpangan distribusi gula Rafinasi itu.

Dalam penggeledahan tersebut, penyidik telah menyita sebanyak 20 sak Gula Kristal Rafinasi dengan masing-masing seberat 50 Kg, lalu 82.500 sachet gula Rafinasi siap konsumsi dan juga bungkus kosong kemasan Sachet dengan merek hotel dan kafe.

Akibat perbuatannya itu, BB dijerat dengan Pasal 139 jo Pasal 84 dan Pasal 142 jo Pasal 91 Undang-Undang No 18 tahun 2012 Tentang Pangan, dan Pasal 62 Jo Pasal 8 (1) huruf a UU No 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen,dengan ancaman hukuman 5 tahun. [dan]

Source: www.merdeka.com