Sekitar Manado | November 20, 2017 at 01:10 AM post by Mimsy (view 134)

TRIBUNMANADO.CO.ID - Setelah gempa paling mematikan tahun 2017 melanda perbatasan Iran-Irak dan menewaskan 530 orang, negara tersebut berduka.

Gempa berkekuatan 7,3 skala richter mengguncang kawasan pegunungan perbatasan Iran dengan Irak pada Minggu (12/11/2017) malam waktu setempat.

Gempa juga menyebabkan terjadinya tanah longsor yang menyulitkan tindakan penyelamatan.

Badan Survei Geologi AS mengatakan, titik gempa berada di sekitar 30 kilometer arah selatan kota Halabja, dekat perbatasan dengan Iran.

Provinsi Kermanshah menjadi daerah yang paling terdampak parah gempa.

"Sejauh ini, kami sudah mengeluarkan 430 surat kematian. Namun, ada sekitar 100-150 orang lainnya yang sudah dikuburkan tanpa izin," jelas Monshizadeh, pejabat pemerintah Kermanshah.

"Ini artinya jumlah korban tewas secara keseluruhan menjadi antara 530-580 orang di Kermanshah," lanjutnya.

Sedangkan, korban cedera disebutkan berjumlah 9000 orang.

Situasi pasca gempa (Unilad)
Situasi pasca gempa (Unilad)

Namun, dari dukacita dan debu, bayi yang berada di antara reruntuhan selama tiga hari telah ditemukan hidup.

Bahkan saat ditemukan, bayi itu tersenyum di hadapan petugas penyelamat, laporan media lokal.

Anak itu ditemukan di tengah puing-puing di kota Sarpol-e-Zahab pada hari Rabu pagi (15/11/2017).

Ini berarti dua setengah atau nyaris tiga hari setelah gempa berkekuatan 7,3 skala richter itu melanda pada hari Minggu, menewaskan sedikitnya 530 orang.

Bayi tersebut ditemukan tersenyum setelah gempa yang kuat menghancurkan beberapa kota dan desa di provinsi Kermanshah di Iran pada hari Minggu malam, menyebabkan 9000 orang luka-luka, menurut IFP News.

Bayi ditemukan tiga hari setelah gempa (IFP)
Bayi ditemukan tiga hari setelah gempa (IFP)

Lebih dari 400 gempa susulan terjadi sejak itu.

Bahkan membuat mereka yang memiliki rumah takut untuk kembali dan mengambil barang-barang mereka dengan aman.

Gempa dikatakan menyerang tujuh kota besar dan 1.950 desa di Provinsi Kermanshah, yang mengakibatkan 12 ribu rumah hancur seluruhnya dan 15 ribu lainnya mengalami kerusakan.

Di kota yang paling terdampak parah gempa dan berjarak 16 kilometer dari perbatasan Iran-Irak, Sarpol-e-Zahab, lebih dari 316 orang tewas.

Banyaknya rumah warga yang hancur membuat banyak korban selamat kini terlantar dan terpaksa tidur di tempat terbuka, tanpa pasokan listrik dan air.

"Anda dapat mendengar anak-anak menangis, sebab di sini sangat dingin. Mereka hanya bisa didekap oleh orangtua mereka untuk bisa tetap hangat," cerita seorang korban selamat, Ali Gulani (42).

Masih banyak korban selamat di Sarpol-e-Zahab yang mengaku belum menerima bantuan apapun dari pemerintah maupun lembaga kemanusiaan.

Saking depresi karena tak kunjung mendapat bantuan kemanusiaan, sejumlah warga sampai membuat tempat tinggal sementara menggunakan jerami dari peternakan di sekitar mereka.

Menurut otoritas setempat, memang ada keterlambatan dalam distribusi bantuan, sebab banyak keluarga yang tidak terdampak gempa justru mengambil stok bantuan tersebut.

Dikatakan sudah ada lebih dari 12 ribu tenda didistribusikan ke Sarpol-e-Zahab, meski sesungguhnya jumlah rumah penduduk yang hancur di sana lebih dari itu.

Situasi pasca gempa (Unilad)
Situasi pasca gempa (Unilad)

(TribunStyle/Yohanes Endra)

Source: manado.tribunnews.com