Sekitar Manado | December 07, 2017 at 01:10 AM post by Mimsy (view 456)

MANADO - Peristiwa gantung diri yang dilakukan pasangan remaja di Desa Koreng, Minahasa Selatan, pada Selasa (5/12/2017) pagi, menggemparkan masyarakat di Sulawesi Utara (Sulut).

Tak Hanya menyesalkan perbuatan keduanya yang mengakhiri hidup dengan gantung diri. Namun masalah yang membuat keduanya bunuh diri bikin publik terhenyak.

Betapa tidak, RK alias Rino (20) dan MK alias Meifa (15) ini menjalin cinta terlarang. Orangtua mereka melarang karena keduanya tak hanya sekampung tapi memiliki hubungan darah dan marga yang sama.

Kedua sejoli ini nekat mengakhiri hidup dengan menggunakan seutas tali nilon sepanjang 3 meter di bawah tower saluran udara tegangan tinggi (Sutet) di belakang rumah orangtua Rino, keluarga Karwur-Rumengan.

Berikut 7 hal yang perlu diketahui dari peristiwa gantung diri yang dilakukan Rino dan Meifa, warga Desa Koreng:

1. Rino dikenal baik

Hukum Tua Desa Koreng, Joseph Rumengan mengungkapkan bahwa kedua remaja tersebut dikenal baik, sopan, ramah, dan rajin ke gereja.

Peristiwa ini menjadi pelajaran atas kejadian seperti ini.

Tak pernah ada kejadian seperti gantung diri di Desa Koreng dan melibatkan dua orang sekaligus.

Rino tak ada jejak kriminal dan rajin ke gereja. Bahkan Rino tak pernah terlihat mabuk dan merokok.

Kaur Pemerintahan Suharto Wuisan mengungkapkan Rino dikenal oleh masyarakat desa sebagai remaja yang baik dan tak ada catatan kriminal.

"Tak pernah mabuk apalagi mengisap rokok," tambahnya.

Bahkan kedua pasangan tersebut masih pergi ke pasar bersama sehari sebelum kejadian.

"Kami tak melihat tingkah laku keduanya akan melakukan gantung diri," imbuhnya.

2. Meifa Aktif Melayani

Gembala GPDI Koreng, Noldy Kaligis mengatakan Meifa selama berjemaat atau di gereja merupakan gadis yang manis dan aktif melayani, tapi sedikit tertutup dan tak banyak bicara.

"Kejadian tersebut memang sangat mengagetkan,Bahkan-teman di gereja tak ada kecurigaan apa-apa kepada Meifa sebab aktifnya normal," ucapnya.

Katanya, Meifa sering tegar sapa dengannya. Tak ada pikiran akan terjadi peristiwa tersebut.

"Ya, kalau hatinya saya tidak tahu, ini keputusan pribadi dan tak ada yang menyangka terjadi bahkan tak ada ajaran gantung diri," jelasnya.

Suharto Wuisan, Kaur Pemerintahan Desa Koreng, mengatakan orangtua Meifa berada diluar daerah dan hanya tinggal dengan opa di rumah

Malam sebelum kejadian, Meifa sempat diminta kakeknya agar cepat tidur karena besok (Selasa) harus sekolah.

Namun saat dibagunkan pada paginya, sang kakek yang hendak membangunkan tak dibukakan pintu.

"Dia pikir Meifa sudah berangkat pergi sekolah," ungkapnya

3. Ditegur karena Jalin Cinta Terlarang

Peristiwa gantung diri yang dilakukan RK alias Rino dan MK alias Meifa diduga bermotif asmara terlarang.

Kaur Pemerintahan Suharto Wuisan, mengatakan kedua korban pernah diingatkan oleh keluarga Meifa karena terlihat sangat dekat.

Dan saat itu, Rino mengiyakan untuk tidak terlalu dekat lagi dengan Meifa.

Namun, seiring berjalannya waktu kejadian gantung diri terjadi.

Kasat Intelkam Polres Minsel, AKP Karel Tangay, mengatakan aksi nekat kedua korban diduga karena cinta yang dilarang orangtua.

"Untuk motif kasus diketahui bahwa kedua korban menjalin asmara terlarang karena masih ada ikatan darah, hingga pada akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri,” jelas AKP Karel.

4. Gantung diri dengan Berbagi ujung tali

Kedua sejoli ini nekat mengakhiri hidup dengan menggunakan seutas tali nilon sepanjang 3 meter di bawah tower Sutet. Mereka berbagi ujung tali tersebut dengan diikatkan dileher masing-masing.

Keduanya ditemukan dengan posisi berhadapan dan kepala Meifa tampak tersandar dibahu Rino kekasihnya. Tangan keduanya tampak mengepal.

Suharto Wuisan, Kaur Pemerintahan Desa Koreng menceritakan jasad kedua korban ditemukan ayah Rino yang hendak menuju kebun.

Awalnya ayah korban hanya curiga kedua korban sedang berpelukan, sehingga memanggil istrinya melihat langsung.

Kapolsek Tareran, Iptu Petrus Satu, mengatakan kedua korban tersebut ditemukan Fentje Karwur (61) dengan posisi korban sudah tergantung di tower listrik.

Kedua korban gantung diri ini pertama kali ditemukan oleh Heis Rumengan, ibu Rino.

“Berdasarkan keterangan saksi, Pak Fentje, ayah dari korban RK (Rino), bahwa ia sempat melihat anaknya berbicara dengan perempuan MK (Meifa) di dekat tower sutet," katanya

"Saksi kemudian menyuruh istrinya, Heis Rumengan, untuk memanggil anak mereka. Saat tiba di tower sutet, ibu Heis Rumengan mendapati anaknya, RK (Rino), bersama dengan perempuan MK (Meifa) sudah meninggal karena gantung diri,” terang Kapolsek Tareran, Iptu Petrus Satu.

5. Dimakamkan satu peti

Setelah dilakukan pertemuan dan kesepakatan antara pemerintah, keluarga, dan pihak kepolisian bahwa kedepannya tak ada otopsi karena kedua korban sudah jelas murni gantung diri.

Siangnya oleh keluarga kedua korban langsung dikebumikan.

Kasat Intelkam Polres Minsel, AKP Karel Tangay, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyarankan kepada kedua pihak keluarga almarhum untuk dilakukan proses otopsi namun ditolak.

“Keluarga korban gantung diri menyatakan menerima peristiwa duka ini dan menolak untuk dilakukan proses otopsi," jelasnya

Diketahui, jenazah Rino dan Meifa dimakamkan dalam satu peti mati dengan mengenakan pakaian yang seragam.

Kendati dikuburkan di pemakaman umum, tapi tidak berdekatan dengan kuburan warga.

Jenazah Rino dan Meifa langsung dimakamkan usai diperiksa oleh polisi dan dokter.

Kedua sejoli ini pun dimakamkan dalam satu peti yang dibuat sendiri oleh keluarga.

6. Dikuburkan Tanpa Ibadah Pemakaman

Hukum Tua Desa Koreng, Joseph Rumengan, saat ditemui Tribun Manado di rumahnya mengatakan sesuai tradisi desanya, apabila ada warga gantung diri atau bunuh diri, selama jenazah belum dimakamkan tidak boleh digelar ibadah.

"Kalaupun keluarga ingin memanggil pendeta untuk ibadah, kedua jenazah harus dimakamkan dulu sesuai budaya desa. Jika mau dilakukan ibadah pemakaman, apa yang pendeta ingin khotbahkan begitu juga dengan pemerintah desa apa yang ingin disampaikan," ungkapnya

Katanya, sesuai tradisinya kematian yang disebabkan bunuh diri atau gantung diri, pemerintah tak bisa menggerakkan masyarakat atau mengimbau masyarakat. Pemerintah hanya mengawal sampai pemakaman sesuai permintaan keluarga.

7. Bangku Sekolah Dikosongkan

Sri Lendo, Kepsek SMP Koreng saat dihubungi Tribun Manado menceritakan bahwa Meifa sangat aktif dan rajin di sekolah.

Untuk sementara tempat duduknya dikosongkan dulu.

"Bahkan ia siswa berprestasi di sekolah. Saya tak menyangka kalau ia akan berbuat sejauh itu," tambahnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Minsel, Feibert Raco berkata kejadian tersebut sangat mengagetkan.

Katanya, generasi muda yang ada banyak telah mengikuti film-film tragedi cinta. Makanya pihak sekolah harus waspada karena sudah ada gejala-gejala.

"Keputusan bunuh diri yang mereka ambil tidaklah gampang," katanya.

Katanya, peristiwa tersebut biasanya terjadi di kota-kota besar, namun sampai ke desa mulai terjadi.Sehingga perlu ada koreksi juga di manajemen sekolah-sekolah agar melihat anak-anak yang suka menyendiri di sekolah untuk diajak bicara.

Dia mengimbau kepala sekolah dan guru-guru agar mampu melihat para siswa-siswi di sekolah apalagi yang suka menyendiri atau banyak diam.

"Selain peran guru, pihak orang tua sebagai penanggung jawab wajib memperhatikan tingkah laku anak jangan sampai terjadi hal-hal negatif yang membuat anak depresi sampai ingin melakukan tindakan bunuh diri," tandas Raco.

Source: manado.tribunnews.com