Teknologi | December 30, 2017 at 05:10 PM post by Mimsy (view 1576)

Laporan Wartawan Tribun Manado Ryo Noor

MANADO TRIBUN - Kebijakan pemerintah sebenarnya sangat pro pendidikan. Hal itu bisa dilihat dari sembilan program (Nawa Cita) yang dicanangkan Presiden Joko Widodo, yang sebagian besar muaranya pada pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Nasional Sulut Gemmy Kawatu saat Focus Discussion Group (FGD) Refleksi Akhir Tahun Pendidikan Sulut di Kantor Tribun Manafo, Jumat (29/12/2017).

Di Sulut, kata Gemmy, Nawa Cita itu kemudian diturunkan dalam Rencana Jangka Menengah, dimana ada empat hal penting dan satu di antaranya adalah pendidikan.

Di bawah kepemimpinan Olly Dondokambey-Steven Kandouw, lanjutnya, Sulut sedang berupaya melaksanakan program Pendidikan Sulut Pintar Menghitung.

Berdasar teori, katanya, kecerdasan manusia itu meliputi 7 aspek, satu di antaranya adalah terkait kemampuan di bidang eksakta. "Kecerdasan itu dasarnya berhitung," ungkapnya.

Sementara, faktanya, nilai rata-rata siswa dalam ilmu eksakta seperti matematika, fisika, dan kimia, rata-rata di bawah 5. Sedangkan mata pelajaran lain non-eksakta, nilai rata-ratanya di atas 6.

Berdasar fakta itu, dibuatlah satu cara belajar GASING, gampang, asyik, dan menyenangkan.
Untuk ini, Diknas Sulut menyiapkan anggaran Rp 1,5 miliar untuk melatih guru matematika, fisika, dan kimia.

"Kami adakan Bimtek 400 guru untuk 4 mata pelajaran, yakni fisika, kimia, bahasa Inggris, dan matematika. Hasilnya ternyata ada kenaikan," kata Gemmy.

Tantangan lain di dunia pendidikan Sulut, lanjutnya, adalah kompetensi guru dan kepala sekolah yang masih rendah. Sulut, katanya, masuk 10 besar dari bawah. Saat Sulut mulai belajar berjalan cepat, provinsi lain sudah berlari.

Berbagai upaya juga dilakukan agar sekolah-sekolah di Sulut bisa melakukan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Targetnya akan ada 400 sekolah yang menerapkan UNBK. Semua itu, papar Gemmy, membutuhkan fasilitas penunjang.

Selain komputer, juga perlu ditunjang koneksi internet yang mumpuni, terutama di daerah kepulauan.

"Dan ini tidak gampang. Harus ada penguatan jaringan. Tidak ada lagi jaringan jelek," ujarnya.

Sulut, ungkapnya, juga masih harus menyelesaikan persoalan ketersedian guru berkompetensi. Banyak guru-guru yang akan pensiun, sementara perekrutan masih minim.

"Tahun depan, ada 260 guru yang akan pensiun," kata dia.

Memang ada guru honorer, katanya. Untuk sekolah swasta yang bagus, kesejahteraan guru honorer sudah cukup memenuhi. Namun, masih ada sekolah yang memberikan honor yang di bawah upah minimum "Honornya sebulan hanya Rp 750 ribu. UMP kita Rp 2,9 juta," ungkapnya.

Hadir dalam FGD yang digelar Tribun Manado itu antara lain Wakil Rektor 4 Unsrat Manado Prof Dr Ir Sangkertadi DEA, Kepala Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sulut Asiano Gemmy Kawatu SE MSi, Dosen Fakultas Kedokteran Unsrat Dr Taufik Pasiak, Rektor Universitas De La Salle Prof Dr Johanis Ohoitimur MSC, Wakil Rektir 1 Unsrat Prof Dr Jimmy Posangi MSc PhD, Guru Besar Pendidikan Unima Prof Dr Max Ruindungan, Guru Besar UKIT YPTK Tomohon Pdt Prof Dr Nico Gara MA, Dosen Fakultas Teknik Unsrat Ir ST Godion Kaunang MT PhD, serta Pemred Tribun Manado Sigit Sugiharto.

Source: manado.tribunnews.com