Sekitar Manado | January 13, 2018 at 12:10 AM post by Mimsy (view 1492)

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sulawesi Utara yang secara geografis lebih dekat dengan Marawi, bukan target utama pelarian eks teroris Marawi. Kabarnya mereka lebih memilih melarikan diri ke Kalimantan Utara. Alasannya simpel. Para eks teroris Marawi ini lebih mudah membaur dengan masyarakat.

Letak geografis provinsi termuda di Indonesia ini sangat terbuka di tapal batas negara. Karena itu, butuh pengawasan ketat.

Baca: Duterte Klaim Marawi Bebas ISIS

Baca: Aparat Filipina bekuk istri Petinggi ISIS Marawi asal Bekasi

Berhadapan dengan Tawau dan Sabah Malaysia, Kalimantan Utara juga berhadapan dengan Marawi, Filipina bagian selatan.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kalimantan Utara Basiran La Zaidi menjelaskan, Kalimantan Utara tidak bisa lengah menanggapi isu terorisme.

Jalur-jalur perbatasan yang rentan dilewati kelompok terorisme juga tidak bisa dibiarkan renggang.

"Karena wilayah kita sangat terbuka khususnya wilayah Nunukan. Nunukan terbuka sebagai daerah transit baik dari Nunukan maupun Filipina," kata Basiran saat dikonfirmasi, Jumat (12/1/2018) pukul 15.00 sore.

Gejolak yang terjadi di Marawi, Filipina bagian selatan menurutnya hal yang tidak bisa diabaikan.

Basiran meyakini, eks teroris di Marawi pasti akan lari dan Kalimantan Utara adalah satu daerah paling ideal.

"Eks teroris di Marawi sangat mungkin daerah tujuan pelariannya sangat mungkin ke Kalimantan Utara. Untuk mereka masuk ke Sulawesi Utara akan repot karena di sana mayoritas Nasrani," katanya.

Eks teroris Marawi akan sukar dideteksi karena akan berbaur di tengah masyarakat.

Namun Basiran yakin Polri, TNI, bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sudah mengantongi data-data terorisme.

"Data terorisme di Indonesia dan internasional itu sudah ada di BNPT, Polis, dan TNI. Mereka terus diendus karena jaringan mereka terus selalu berkembang. Untuk mematikan persoalan ini maka selalu diadakan monitoring pergerakan mereka ini. Kemarin di Nunukan makanya langsung ditangkap karena dia masuk daftar terorisme internasional," katanya.

Kasus yang disebut Basiran ialah penangkapan terduga teroris Reza Nurjamil oleh Detasemen Khusus 88 Anti Teror pada 31 Desember 2017 di Nunukan.

Basiran mengkhawatirkan, hijrahnya beberapa eks teroris Marawi ke Kalimantan Utara bisa membentuk jaringan baru dengan merekrut masyarakat setempat.

"Kita bersyukur pihak keamanan sudah berhasil menangkap. Sekarang kita meminta masyarakat, pemda, bersinergi dengan Polri, dan TNI," katanya.

Baca: 10 Warga Rohingya Tertuduh Teroris Dibunuh Militer Myanmar

Baca: 10 Warga Rohingya Tertuduh Teroris Dibunuh Militer Myanmar

Baca: Tujuh ABK Indonesia Disandera Kelompok Teroris Filipina, Satu ABK Asal Sulut

Source: manado.tribunnews.com